Mengenai Saya

Foto saya
I am a university student in Jakarta I want to pursue my dream for my parents and my family I wish my parents proud to see from heaven....(..._...)ya allah protect me in every step ammin ammin...

Rabu, 02 Mei 2012

Hidupku Sebuah Dongeng


Hidupku Sebuah Dongeng
Dewasa…
Kata yg mdh terucap, namun sulid d wujudkn..
Saat aq b’dialog dg hujan d mlm it, yg ad d pkiranq, Aq ingin Suatu saat menjadi perempuan dewasa yg bsa mengatasi mslh dlm hal apapun. Aq tag peduli kata2 mjd se0rang dewasa adl hal yg rumit.
Yg aq harap hanyalah, bila ‘suatu saat’ it adl saat ini.
Mgkn, inginq yg abstrk ini, trllu idealis. Dan aq gk pduli itu, aq gk peduli mreka yg b’pkir ttg aq, kl aq ‘sok idealis’.
HidupQ bkn lah dg caramu. HidupQ adl hidupQ…
Aq sadar, aq terlalu eg0is unk itu..
aq jg gk mw hdupQ slalu d bentengi rasa gengsi yg merugikan org2 yg aq syg.
Dan Kala it, Tanyaku pada hujan, Kpn aq dewasa? Kpn aq bsa b’hnti mengeluh? Kpn aq bsa brhnti dr rasa kcwa? Kpn aq b’hnti unk tdk merepotkan ortu dan org2 d sktrq?
Dan kpn tanyaQ ini terjawab?
Aq (teringat sesuatu) pesan beliau,
unk m’dptkn hal2 yg qt inginkan, maka qt akan t’bysa unk m’hdpi cobaan. Beliau jg menekankan kl tag slamanya qt b’gntung pd bulan d mlm hari dan matahari d siang hari..
Keluhq pd langit mendung kpd mreka,.
Aq ingin hdp dg caraq,.aq tag ingin beliau2 trllu m’cmpuri urusanQ. Karna…
.Mreka slalu mem-vonis b’salah org2 yg b’mslh dg q it. (yg blm tntu b’salah)
.Mreka slalu merekayasa msalah ini, tnpa sepengetahuan mreka yg sbnrnya
.mreka slalu mem0jokkanQ
.Mreka yg mengubah jalan hdpQ dg mengrbankn kbhgiaanQ…
Terakhir….
.Mreka slalu meremehkanq…
Yg t’bk bg mreka blm tntu bsa jd yg t’bk unkQ. Cara mreka t’lalu menyiksaQ…
Sering Aq berfikir unk mrasakan hdp sndri, berdiri sndri, berusaha sendiri dan hdp dg caraQ sndri…
(Unk hdp dg caraQ sndri, bkn brarti aq menutup diri dari saran2 org laen. Hdp dgn caraQ sndri adl hdp dgn pilihan bnr yg aq ptskn dan siap dg resiko yg ad)*
Aq capek dg kata2 mreka yg seakan2 menghipnotisq unk mlakukn ap yg mreka mau…
Sampe saat ini…
Aq hanya terdiam mendengar ucapan dg nada tinggi mreka,
aq gk ingin mengadu-domba mreka. Tapi…
Dg alternatif ini, aq slalu terp0j0k dgn rekayasa crita mreka…
Aq ingin b’teriak..
Aq ingin ngom0ng sbnrnya…
Tapi…
Mataq slalu b’kaca2 unk mengungkpnya,.
Dg keadaan kek gni, bnyk kt2q hilang dlm benakq yg sbnrnya sgt ptg mreka unk ketahui it..
Mgkn…
Aq memang hrz meng0rbnkn prasaanQ lg unk mbt mreka lega..
Dan aq optimis, Allah akn mbriQ Waktu yg tepat unk pembuktian kpd mreka..
Smuga…
Org2 yg ad d smpingQ, Memahami keadaan ini dan menerimaq apa adanya, tnpa hrz memandang seberapa bsr beban masalah yg aq jinjing..
Aq jg yakin, ap yg ortu ingin adl unk yg trbk bg keturunannya…
Dan aq jg berharap, Smoga Allah mberiQ Kesempatan unk membahagiakn mreka .
Amin Allahumma Amin

Selasa, 01 Mei 2012

...MANUSIA BERBEDA DENGAN BINATANG..


Manusia berbeda dengan binatang, namun ayat-ayat suci Al-Qur’an sering pula menyatakan manusia laksana binatang.
Al-Qur’an menegas-kan hal itu bukan untuk menunjukkan bahwa manusia sejatinya adalah rendah dan tidak ber-martabat, melainkan memperlihatkan adanya peluang bagi manusia untuk jatuh tidak beradab.

Kesetaraan manusia dengan binatang terjadi karena berbagai sebab, terutama ketika manusia tidak mau mengikuti ajakan ruh Tuhan yang telah ditiupkan-Nya. Malah sebaliknya, menuruti goda-an nafsu syahwati yang berasal dari sari bumi.
Tidak berarti Allah mencipta tidak sempurna, karena menghadirkan dua kutub kontradiksi pada dirinya. Melainkan cermin kemahasempurnaan-Nya untuk menguji manusia mana yang mampu mengelola dirinya. Bagaimana ia akan mengelola bumi, bila ternyata tidak mampu menata dan memenej dirinya sendiri.

Bumi adalah kompleksitas, sebagaimana diri ma-nusia menjadi mikrokosmik yang rumit. Kemam-puan manusia mengendalikan diri pribadi menjadi indikator yang baik bagi kemampuannya melak-sanakan mandat Allah.

manusia beda dengan binatang
Di saat tidak ada makhluk yang merasa sesuai dengan tugas mengelola bumi, manusia diuji untuk mencobanya. Dia akan mampu, karena Allah telah membekalinya dengan kemampuan.
Namun dia akan jatuh bila kemampuan yang diberikan Tuhan disia-siakannya. Akhirnya terserah manusia apakah ia akan berjuang menun-jukkan bahwa dirinya layak menjadi khalifah-Nya atau seperti sinyalemen para malaikat, hanya dapat merusak dan menciptakan pertumpahan darah.

Konon ketika Adam as dipermaklumkan Allah akan menjadi khalifah di muka bumi, majelis agung malaikat mengajukan keberatan yang sangat. Para malaikat bukannya berkeberatan atas kehendak Yang Maha Kuasa atau bahkan meragukan keputusan-Nya. Ada kesan sangsi terhadap kemampuan makhluk bernama manusia, yang saat itu direpresentasikan oleh sosok Adam as.
Apakah Engkau akan memberikan mandat untuk mengelola bumi kepada makhluk yang berbuat kerusakan dan gemar menumpahkan darah, Tuhan. Padahal kami di sini senantiasa bertasbih dengan memuji keagungan-Mu serta mensucikan-Mu. Demikian merekamenyatakan pandangannya.

Begitu kontras kesan pertama manusia di mata malaikat yang dekat dengan Tuhan. Manusia adalah makhluk yang perusak dan haus darah, sedang malaikat adalah makhluk suci dan senantiasa mengabdi.
Barangkali malaikat khawatir melihat nasib bumi yang telah disiapkan dengan aneka keindahan, dengan ragam potensi untuk tumbuh kembang menghiasi mayapada, menjadi sebuah surga di alam semesta, tiba-tiba ia menjadi benda yang patut dikasihani lantaran ulah manusia.

Apakah manusia memang memiliki kecenderung-an atau tabiat untuk merusak dan menumpahkan darah? Ataukah malaikat hanya bercermin kepada realita empiris di bumi yang mereka saksikan sebelum Adam as diutus untuk melakukan pem-baruan? Untuk semua pertanyaan itu, Allah menjawabnya, Aku Maha Tahu tentang apa yang tidak kalian ketahui.

Adam as. kemudian menjadi prototipe manusia yang di kemudian hari anak cucunya memegang kendali pengelolaan bumi. Adam adalah khalifah dunia pertama kalinya, perintis hidup berkeadab-an yang diharapkan mampu menunjukkan kua-litas dirinya, tidak seperti yang disangsikan oleh para malaikat.

Anggaplah di bumi sebelum Adam as. telah berkembang sebentuk kehidupan, maka kehadiran Adam as adalah sebuah era baru dalam per-jalanan makhluk dan alam semesta secara global. Bagaimana prediksi kehidupan di era baru kehidupan bumi antara lain bisa diamati dari apa yang di alami Adam as sebagai protoripe manusia yang akan mengolahnya di kemudian hari.

Ada beberapa hal yang dijalani Adam as di awal keberadaannya. Pertama, Adam as. tidak semata cermin ruh-Allah yang Maha Quddus dengan segenap kemahasempurnaan nama, sifat dan mahakarya-Nya, melainkan paduan antara anasir-anasir tanah (thin, turab, shalshal, dst) yang me-miliki karakteristik non-ruhiyah.
Dengan demi-kian pada diri manusia terdapat dua dimensi dasar yang masing-masing memiliki tabiatnya sendiri. Kedua, Adam as. diberi ilmu-Allahyang khusus, dimana para malaikat yang dekat dengan-Nya saja tidak memperoleh ilmu ini.
Ilmu ini digam-barkan mengungguli pengetahuan malaikat se-hingga mereka menjadi respek terhadap kemam-puan manusia dan kesiapannya dalam melaksa-nakan amanat
kekhalifahan. Ketiga, Adam as diuji untuk menunjukkan kualitas dirinya.
Dengan kata lain Adam as harus lulus uji prestasi dalam hal ini ia bisa memperlihatkan karyadan produk dari pencerapan ilmu Allah. Sampai tahap ini barulah Adam as. layak untuk dihargai.

Pelajaran dari elaborasi di atas adalah diperoleh-nya suatu ajakan bagi semua kita untuk me-lakukan evaluasi ulang terhadap keadaban hidup kita sekarang ini. Jangan-jangan di tempat yang kita huni ini sinyalemen malaikat tengah terjadi dengan sangat jelasnya. Kita hanyalah makhluk-makhluk yang gemar menciptakan kerusakan-kerusakan terhadap kehidupan setelah kehidupan ini ditata dengan hukum dan sunatullah yang seimbang (ba’da ishlaahihaa).
Kita lihat di darat-an dan di lautan sebagai simbol berbagai lini kehidupan kita. Lihatlah di
segala bidang kehi-dupan kita, ekonomi kita, budaya kita, kehidupan sosial, politik kita, di lapangan pendidikan, dan moralitas kemanusiaan kita. Kerusakan, ketimpangan !!

Di sebagian belahan bumi kita, sekian banyak manusia anak-anak Adam as. memangsa sesa-manya yang tidak berdosa dengan kekejian yang tidak terkira. Darah tumpah membasahi tanah air mereka, anak-anak bayi dipadamkan masa depan-nya, para wanita direndahkan kehormatannya, para pemudanya ditangkapi dan diperjarakan dengan siksaan, para ulama penganjur kebenaran dan penyambung suara Tuhan diintimidasi dan dibungkam.
Gejala apakah ini, ketika manusia masih dikuasai dorongan haus darah untuk berperang karena membela egosime nafsu syah-wat mereka? Ketika suara-suara Tuhan mereka benamkan ke sisi-sisi kehidupan?
Bukankah ini yang disoroti malaikat yang sangsi terhadap sifat amanahnya manusia sebagai mandataris Allah ? Aku Maha Tahu tentang apa yang tidak kalian ketahui, demikian Allah berfirman. Lalu ada apa di balik kata-kata-Nya?
Daripada mempertanyakan bahkan meminta per-tanggungjawaban Tuhan, alangkah
lebih mawas diri apabila kita melakukan introspeksi saja. Karena Diapun mengajari kita demikian. Jangan-jangan kita kehilangan tiga modal utama yang diteladankan Adam as moyang kita:
(1) kita tidak lagi care/peduli terhadap aspek ruhaniyah kita yang memiliki tabiat adiluhung untuk menjunjung nilai-nilai ketuhanan di muka bumi, sehingga manusia tidak lagi mewakili-Nya. Manusia telah murtad dari gambaran Tuhan,
(2) manusia tidak lagi memandang penting untuk melakukan pencerapan ilmu-ilmu Tuhan yang khusus yang wallaahu ‘alam seperti apa konstruksi sejatinya, namun hal ini mestinya mendorong kita untuk mendekati pemiliknya. Bukan bahkan menjauhi dan memusuhinya,
(3) kita tidak lagi memiliki kegairahan dan motivasi untuk berprestasi dan berkarya, membuktikan bahwa kita layak menjadi representasi karya Tuhan.

Karena kita kehilangan ketiga modal ini, kita menjadi tidak memiliki harga, sehingga tidak layak mendapatkan penghargaan dari siapapun. Apalagi dari Allah yang telah memandatkan pengelolaan bumi ini agar beradab.
Kalau kita tidak lagi berharga, maka tidak ada yang perlu dituding bila kita ditimpa banyak kehinaan. Karena demikian itulah kualitas kita. Bukan lagi kualitas khalifah yang pantas menjadi wakil-Nya di bumi. Wallahu'alam.

Sabar Menghadapi Ujian Dan Tawakkal Kepada Allah Semata


Sabar Menghadapi Ujian Dan Tawakkal Kepada Allah Semata
Di dalam surah Al-Baqarah Allah سبحانه و تعالى menyatakan bahwa agar berhak memasuki surga orang-orang beriman mesti melalui berbagai ujian terlebih dahulu. Sebagaimana umat beriman di masa lalu juga mengalami berbagai ujian. Allah سبحانه و تعالى berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS Al-Baqarah [2] : 214)
Subhaanallah...! Coba bayangkan. Sudahlah para sahabat memang sedang menjalani masa sulit dengan aneka ujian dan cobaan di masa itu. Tetapi lihatlah bagaimana Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم mendidik para sahabat untuk bersabar dan melipat-gandakan kesabaran. Justeru mendengar apa yang dikatakan oleh Khabab ibnul Arat malah Rasulullah صلى الله عليه و سلم memberikan bayangan ujian kesulitan hidup yang jauh lebih dahsyat yang telah menimpa generasi terdahulu sebelum para sahabat. Ujian generasi terdahulu lebih berat lagi dibandingkan ujian para sahabat. Padahal apa yang dialami oleh para sahabat-pun bukanlah ujian dan cobaan yang ringan..! Bahkan Nabi صلى الله عليه و سلم mengakhiri pesannya kepada Khabab dengan menegurnya secara keras dan menilainya sebagai bagian dari golongan yang tidak sabar...!!
وَلَيُتِمَّنَّ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مَا بَيْنَ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخْشَى إِلَّا اللَّهَ تَعَالَى وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَعْجَلُونَ
Dan sungguh, benar-benar Allah Tabaaraka Wa Ta'ala akan menyempunakan urusan (agama) ini hingga ada seorang pengendara berjalan dari Shan'a menuju Hadarmaut dalam keadaan tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau khawatir kambingnya akan dimakan serigala. Akan tetapi kalian terburu-buru." (HR. Ahmad, No. 20148)
Bahkan Nabi صلى الله عليه و سلم menilai Khabab sebagai bagian dari golongan yang tidak sabar. Padahal Khabab, seorang pandai besi, adalah salah seorang sahabat yang telah
mengalami penyiksaan yang sungguh hebat di masa awal da’wah Islam di Mekkah sebelum hijrah. Sya'bi, salah satu kawan sependeritaan Khabab, menggambarkan kegilaan orang-orang Quraisy yang menyiksa Khabab. Orang-orang kafir itu datang kepada Khabab dan menyeretnya keluar kemudian menindihnya dengan batu yang membara, hingga meluluhkan dagingnya. Namun hati Khabab tak sedikitpun terpengaruh, justru membuat ia semakin yakin akan kebenaran risalah yang diikutinya.Sahabatnya yang lain menceritakan bahwa orang-orang kafir itu datang ke rumah Khabab. Mereka membakar besi-besi yang hendak dijadikan pedang. Kemudian setelah membara mereka gunakan untuk tiang mengikat tangan, kaki, berikut tubuh Khabab.
Inilah di antara yang telah dialami oleh generasi pertama ummat Islam. Namun Rasulullah صلى الله عليه و سلم menyebut Khabab sebagai “Akan tetapi kalian terburu-buru.” Lalu Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم membandingkan dengan ujian yang telah dialami oleh ummat beriman di masa lalu. Seolah ingin mengatakan bahwa sabar dan meilpatgandakan kesabaran
menghadapi ujian berat merupakan prasyarat untuk meraih kemenangan dan masuk surga.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
"Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir". (QS. Al-Baqarah [2] : 250)
Syarat kedua agar orang-orang beriman meraih kemenangan dan berhak masuk taman keabadian penuh kenikmatan (yakni surga) ialah keharusan bertawakkal semata kepada Allah سبحانه و تعالى . Bilamana berbagai ujian dan penderitaan yang dialami kaum mukminin telah sampai ke derajat dimana orang-orang beriman tersebut hanya memohon pertolongan kepada Allah سبحانه و تعالى semata, maka pada saat itulah justeru pertolongan Allah سبحانه و تعالى akan segera datang. Dan tawakkal kepada Allah سبحانه و تعالى tersebut haruslah merata berlaku di segenap lini barisan kaum mukminin, baik Rasul maupun para pengikutnya, baik pemimpin maupun pengikutnya. Tidak boleh ada satupun lapisan kaum mukminin yang mengharapkan selain pertolongan Allah سبحانه و تعالى . Jangan sampai lapisan grassroot (akar rumput) para pengikut misalnya berharap kepada Allah سبحانه و تعالى , namun jajaran para pemimpin malah ada yang diam-diam mengharapkan bantuan dari kaum kuffar ataupun kaum munafik..!
حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
“...sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah [2] : 214)
Dan tawakkal kepada Allah سبحانه و تعالى yang dituntut ialah tawakkal yang sempurna dan totalitas, bukan tawakkal yang parsial atau setengah-setengah. Tawakkal yang dituntut bukan hanya tawakkal kepada Allah سبحانه و تعالى
dalam memohon pertolongan, yaitu dalam bentuk do’a, sholat lima waktu secara disiplin dan tepat waktu berjamaah di masjid, sholat tahajjud di tengah malam, berpuasa baik wajib maupun sunnah dan berbagai bentuk ibadah ritual lainnya. Tawakkal yang ditunutut hendaknya meliputi kefahaman dan keyakinan bahwa Islam mencakup baik urusan ritual, individual, sosial, politik, ekonomi, budaya, militer maupun segenap aspek kehidupan lainnya. Ia tidak mau menyerahkan urusan ibadahnya menurut ajaran Islam, namun urusan falsafah hidup bermasyarakat dan bernegara diserahkan kepada man-made ideologies (ideologi bikinan manusia). Ia tidak rela mengembangkan aspek ekonomi menurut aturan syariah sementara urusan politik berjalan mengikuti sistem politik produk kaum barat Yahudi-Nasrani. Sebab sikap seperti itu bukanlah bentuk sempurna bertawakkal kepada Allah سبحانه و تعالى semata.
Tawakkal sempurna kepada Allah سبحانه و تعالى akan menuntut orang-orang beriman supaya mengembalikan segenap urusan kepada petunjuk, aturan dan hukum Allah سبحانه و تعالى dan sesuai dengan tuntunan teladan utama orang-orang
beriman yakni Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم. Demikianlah Allah سبحانه و تعالى gambarkan potret kumpulan manusia beriman terbaik yang selalu menghiasi panggung sejarah dunia.
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisa [4] : 69)
Kumpulan para Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh merupakan manusia-manusia yang senantiasa istiqomah di atas jalan lurus yang
Allah سبحانه و تعالى bentangkan untuk mencapai keselamatan di dunia dan di akhirat. Mereka tidak pernah memiliki keraguan akan kekuasaan dan kedaulatan Allah سبحانه و تعالى . Mereka tidak pernah silau dan kagum sehingga menjadi inferior alias keder menyaksikan kesewenang-wenangan kaum kuffar ketika Allah سبحانه و تعالى izinkan mereka berkuasa sejenak di dunia. Bila Allah سبحانه و تعالى taqdirkan mereka hidup dalam potongan zaman dimana kaum kuffar berkolaborasi dengan kaum munafiq memimpin dunia tanpa petunjuk Allah سبحانه و تعالى , maka kaum beriman ini tidak surut dari jalan Allah سبحانه و تعالى betapapun tidak populernya sikap dan jalan yang mereka pilih. Orang-orang beriman sejati adalah mereka yang tidak sudi memilih petunjuk, arahan, bimbingan kecuali yang jelas-jelas bersumber dari Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya Muhammad صلى الله عليه و سلم Mereka tidak akan rela memilih agama, jalan hidup, way of life selain Dienullah (agama Allah سبحانه و تعالى), Dienul-Haq (agama yang benar), Al-Islam. Dan mereka tidak meragukan sedikitpun agama Allah سبحانه و تعالى Al-Islam tersebut. Mereka sangat yakin bahwa agama Allah سبحانه و تعالى harus dilaksanakan secara keseluruhannya tanpa pemilahan dan pilih-pilih. Mereka tidak mudah ditipu oleh ajaran modern sesat Sekularisme. Suatu ajaran batil yang menyuruh ummat Islam agar memisahkan urusan agama dengan urusan kehidupan sehari-hari. Suatu ajaran yang mengatakan bahwa agama hendaknya diberlakukan sebatas dalam urusan kehidupan pribadi belaka atau di ruang lingkup masjid saja, sedangkan segenap urusan hidup seperti sosial, politik, budaya, ekonomi dan lain sebagainya hendaknya diatur berdasarkan rumusan teori-teori modern sesat produk kaum kuffar barat. Justeru orang-orang beriman sangat yakin dan tawakkal sepenuhnya kepada dienullah Al-Islam karena ia adalah sebuah ajaran yang syamil (menyeluruh), kamil (sempurna) dan mutakaamil (saling menyempurnakan). Dan mereka sangat ragu bahkan menolak berbagai teori, ajaran, konsep, ideologi, pandangan hidup, aturan hidup yang bersumber dari selain Allah سبحانه و تعالى Sebab bagaimana mungkin kaum beriman ragu kepada ajaran Allah سبحانه و تعالى padahal Dia adalah Yang Menciptakan langit dan bumi dan segenap makhluk di antara keduanya. Sementara apa yang telah dibikin oleh para manusia kuffar yang katanya cerdas dan berhasil menelorkan berbagai teori, konsep, ideologi, pandangan hidup, aturan hidup yang pantas menjadi pegangan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di era modern ini?
Saudaraku, sudah tiba masanya bagi kita ummat Islam yang mengaku beriman untuk secara serius ber-tawakkal hanya kepada Allah سبحانه و تعالى dan segenap ajaranNya. Hendaknya kita berusaha mengokohkan keyakinan kita bahwa hanya dengan kembali kepada Allah سبحانه و تعالى sebagai Rabb,
Al-Islam sebagai dien (jalan hidup) dan Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم sebagai teladan utama serta Al-Quranul Karim sebagai dustur (konstitusi) sajalah kita akan memperoleh pertolongan Allah سبحانه و تعالى
Hanya dengan bertawakkal dalam arti sebenarnya kepada Allah سبحانه و تعالى sajalah kita bakal sukses menghadapi berbagai fitnah yang mengelilingi hidup kita di era Akhir Zaman ini. Mari saudaraku, kita pastikan diri dan keluarga kita semuanya benar-benar hanya dan hanya ber-tawakkal
kepada Rabb, Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa alam raya, yakni Allah سبحانه و تعالى . Jika semakin hari semakin banyak ummat Islam yang bersikap demikian, maka percayalah insya Allah pertolongan Allah سبحانه و تعالى tidak lama lagi akan datang menghampiri ummat Islam. Amiin ya Rabbal ‘aalamiin.
 أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al-Baqarah [2] : 214)
Marilah kita kembangkan diri dan keluarga kita menjadi kaum beriman yang benar-benar sabar menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang kian menghebat di Akhir Zaman ini. Lalu kita pastikan bahwa jiwa tawakkal kepada Allah سبحانه و تعالى menghiasi segenap aspek hidup. Jadilah kaum beriman yang tidak pernah ragu untuk hanya dan hanya bergantung kepada Allah سبحانه و تعالى dalam keadaan senang maupun susah.
(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
"Cukuplah Allah سبحانه و تعالى menjadi Penolong kami dan Allah سبحانه و تعالى adalah sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali Imran [3] : 173)