Mengenai Saya

Foto saya
I am a university student in Jakarta I want to pursue my dream for my parents and my family I wish my parents proud to see from heaven....(..._...)ya allah protect me in every step ammin ammin...

Sabtu, 31 Maret 2012

KETIKA ALLAH MENITIPKAN CINTA ,,

Ketika Allah menitipkan cinta pada kita, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita ingin mencinta, Juga tak kuasa menolak cinta yang datang, kerana cinta adalah titipanNya.

Dan ketika saatnya tiba ,,Allah akan menguji titipanNya itu,
Menguji cinta yang Dia titipkan kepada kita.Menguji timbangan cinta kita pada-Nya dan pada kekasih fana kita..Selama ini, manakah yang di DAHULUKAN..?

Ketika saatnya tiba ,,Allah akan menguji seberapa kuat ikatan cinta itu.Dan mungkin akan Dia datangkan cinta-cinta lain..
Sekadar memastikan apakah cinta yang Dia titipkan tak berkurang kekuatannya..Dan akankah manusia siap mengembalikan titipan itu..Ketika saat waktunya tiba..

Kehilangan orang yang kita cintai sungguh sangat menyedihkan bahkan menyakitkan, namun kita tak akan mampu menghindarinya, kerana takkan ada yg abadi di dunia ini.

Kehilangannya membuatku merasa rapuh dan hampa, namun seharusnya memberikan pelajaran dan motivasi berharga bagiku agar senantiasa belajar ikhlas dan sabar
menerima Ketetapan-Nya serta mampu memaknai arti sebuah kehilangan.

Wahai diriku yang rapuh,
Sadarkah jika engkau tidak memiliki apapun kecuali apa yang telah Allah 'Azza wa Jalla amanahkan untuk dirimu?Janganlah engkau larut dalam kesedihan bahkan tenggelam dalam kepedihan manakala Rabb-mu mengambilnya kembali dari hidupmu!

Telah kulepas sepasang kenangan menjelang petang ......terbanglah,,Kepakkan sayapmu..
Indahkan semua tempat yang kau singgahi,

Ada beribu kebahagian yang turut terselip disayapmu sebenarnya,Bagikanlah..
Kesetiap mata yang memandangmu..
Sehingga binar bahagia kelak kan terlihat disetiap pasang mata yang penuh cinta..Seperti binar yang bercahaya metafora dimatamu,Tatkala kau membaca kalimat bisuku dikulit waktu..

Kutitip rinduku padamu angin..
Sebab ragaku ,,Tlah lelah menanggung rindu..
Maafku tlah membuatmu ,,Menderita bersamaku..
Kerana sayap merpatiku pun tlah patah,

Terbanglah wahai angin,,
Temukan dia ditepian langit..
Ditempat segala rindu membara...
( Muhasabah diri lewat sujud malamku )

NAFSU MANUSIA

Tiga Karakteristik Nafsu
Para penempuh jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan beragam cara dan metode bersepakat bahwa nafsu adalah faktor yang menghalangi hati untuk sampai kepada Allah. Mereka juga bersepakat, tidak ada seorang pun yang dapat masuk dan sampai kepada Allah kecuali jika sudah membunuh, menyelisihi, dan memenangkan pertarungan atasnya. Begitulah, manusia itu ada dua kelompok. Pertama, manusia yang dikalahkan, dikuasai dan dihancurkan oleh hawa nafsunya. Ia benar-benar tunduk di bawah perintahnya. Kedua, manusia yang berhasil memenangkan pertarungan melawannya. Ia mampu mengekangnya, menundukannya, dan nafsu pun tunduk di bawah perintahnya.

Sebagian orang arif berkata, "Akhir dari perjalanan para thalibin (orang-orang yang mencari) adalah ketika mereka telah berhasil menundukkan nafsunya. Siapa pun yang demikian keadaannya telah berhasil dan sukses. Sebaliknya siapa saja yang dikalahkan oleh nafsunya telah gagal dan hancur. Allah subhanahu wa taala berfirman,
"Adapun orang yang durhaka, lagi mengutamakan kehidupan dunia. Maka neraka Jahimlah tempat tinggalnya. Sedangkan orang yang takut akan kebesaran Rabbnya, lagi menahan diri dari hawa nafsunya. Maka surgalah tempat tinggalnya. (QS An-Nazi'at: 37-41) Nafsu itu menyeru kepada sikap durhaka dan mendahulukan dunia. Sedangkan Allah subhanahu wa talaa menyeru hamba-Nya agar takut kepada-Nya dan menahan diri dari hawa nafsunya. Jadi, hati manusia itu ada di antara dua penyeru. Kadangkala ia condong kepada yang satu, dan kadang pula condong kepada yang lainnya. Di sinilah ujian dan cobaan.
Di dalam al-Qur'an Allah subhanahu wa ta'ala menyebut nafsu dengan tiga sifat: muthmainnah, lawwaamah dan ammaarah bis suu'. Selanjutnya manusia berbeda pendapat, apakah nafsu itu satu dan yang tiga adalah sifatnya? Ataukah setiap manusia itu memiliki tiga nafsu.
Pendapat pertama adalah pendapat fuqaha' dan para mufassir. Sedangkan pendapat kedua adalah pendapat mayoritas ahli tashawwuf. Tetapi pada hakekatnya tidak ada pertentangan antara dua pendapat ini. Sebab memang nafsu itu satu jika ditinjau dari sisi dzatnya, dan tiga jika ditinjau dari sisi sifatnya.
NAFSU MUTHMAINNAH
Apabila nafsu tenang dan tentram dengan dzikrullah, tunduk kepada-Nya, rindu akan perjumpaan dengan-Nya, serta jinak kala dekat dengan-Nya, maka kepadanya dikatakan – ketika menemui ajalnya -,
"Wahai nafsu muthmainnah! Pulanglah kepada Rabbmu dengan penuh ridla dan diridlai! (QS Al-Fajr: 27-28)
Ibnu Abbas menafsirkan muthmainnah dengan mushaddiqah, membenarkan kebenaran.
Qatadah berkata, Yaitu seorang mukmin yang nafsunya tenang dengan apa yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Tenang di pintu ma'rifah terhadap asma' dan shifat-Nya dengan berdasarkan kabar dari-Nya (al-Qur'an) dan dari Rasul-Nya (as-Sunnah). Tenang atas kabar yang datang tentang apa yang terjadi setelah kematian, alam barzakh, dan kejadian di hari kiamat, seakan-akan melihatnya dengan mata telanjang. Tentram atas takdir Allah, menerima dan meridhainya, tidak benci dan berkeluh kesah, tidak pula terguncang keimanannya, tidak berputus asa atas sesuatu yang lepas darinya, pun tidak berbangga atas apa yang dimilikinya. Sebab, semua musibah telah ditakdirkan oleh-Nya jauh sebelum musibah itu sampai kepadanya, bahkan sebelum ia diciptakan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
"Tidak ada musibah yang datang kecuali dengan izin dari Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya". (QS At-Taghabun: 11)
Tidak sedikit dari para salaf yang menafsirkannya sebagai seseorang yang ditimpa musibah, ia mengerti bahwa musibah itu datang dari Allah, sehingga ia ridha dan pasrah.
Adapun yang dimaksud dengan thuma'ninah ihsan adalah ketenangan seseorang dalam melaksanakan perintah dengan ikhlas dan setia. Tidak mendahuluinya dengan satu keinginan atau pun hawa nafsu. Juga bukan karena ia tidak dihinggapi suatu syubhat yang mengaburkan kabar-Nya, atau syahwat yang bertentangan dengan perintah-Nya. Bahkan jika suatu ketika datang, ia akan menganggapnya sebagai gangguan yang baginya lebih baik terjun dari langit ke bumi daripada mengecapnya, walau sesaat. Inilah yang dimaksud oleh nabi sebagai sharimul iman (iman yang jelas). Juga, ia tenang dari kegelisahan untuk bermaksiat dan gejolaknya menuju taubat dan kenikmatannya.
Bila diri tenang telah berpindah dari keraguan kepada keyakinan, dari kebodohan kepada ilmu, dari kealpaan kepada dzikir, dari khianat kepada taubat, dari riya' kepada ikhlas, dari kedustaan kepada kejujuran, dari kelemahan kepada semangat yang membaja, dari sifat 'ujub kepada ketundukan, dan dari kesesatan kepada ketawadhuan, ketika itulah nafsu telah tentram, muthmainnah.
Pondasi dari itu semua adalah yaqzhah, kesadaran. Kesadaranlah yang menyibak kealpaan dan kelalaian diri. Ia pulalah yang menampakkan baginya taman surga. Ia bersenandung.
Tahukah kau, duhai nafsu?
Celaka bila… engkau bergembira
Bantu aku dalam pekatnya malam
Moga cita nikmat hidup… dalam menjulang
Sesudah hancur segala
Di bawah cahaya kesadaran, diri akan melihat semua yang diciptakan untuknya. Juga, apa yang akan ditemuinya di alam barzakh, sampai memasuki negeri abadi. Ia juga melihat betapa cepat dunia berlalu, betapa sedikit dunia memberikan kenikmatannya kepada anak-anaknya dan orang-orang yang merindukannya, dan betapa dunia membunuh mereka dengan belati-belatinya. Maka bangkitlah ia seraya berseru:
"Duhai, betapa meruginya aku atas keteledoranku di sisi Allah" (QS Az-Zumar: 56)
Selanjutnya, ia akan menggunakan sisa umurnya untuk melengkapi kekurangan, menghidupkan yang telah ia matikan, membenahi puing-puing masa silam, dan memanfaatkan setiap kesempatan – yang jika terlewat, terlewat pulalah seluruh kebaikan.
Masih di bawah cahaya kesadaran dan cahaya nikmat Rabbnya kepadanya, ia melihat betapa ia tak mampu lagi menghitungnya, betapa ia tak mampu memenuhi haknya, betapa ia penuh dengan aib, juga amal-amalnya yang rusak, kejahatan-kejahatannya, dosa-dosanya, serta kelalaiannya terhadap tugas dan kewajiban yang tidak sedikit.
Akhirnya luluh sudah nafsunya, khusyu' sudah anggota badannya, dan ia pun berjalan menuju Allah subhanahu wa ta'ala dengan kepala tertunduk oleh banyaknya nikmat yang ia saksikan serta kejahatan, aib dan dosa dirinya.
Kini, ia tahu betapa berharga waktu yang dimilikinya. Juga bahwa ia adalah modal utama kejayaannya. Maka bakhillah ia terhadapnya jika bukan untuk upaya mendekatkan diri kepada Rabbnya. Sungguh, membuang-buang waktu adalah kerugian, sedangkan menjaganya adalah kemenangan dan keberuntungan.
Inilah buah dari yaqzhah dan implikasinya, yang merupakan langkah awal dari nafsu muthmainnah dalam perjalanannya menuju Allah dan kampung akhirat.
NAFSU LAWWAMAH
Ia adalah nafsu yang selalu berubah keadaan. Ia sering berbalik, berubah warna. Kadang ia ingat, kadang alpa. Kadang ia sadar, kadang berpaling. Kadang ia cinta, kadang benci, kadang ia gembira, kadang sedih. Kadang ia ridla, kadang murka. Kadang ia taat, dan kadang ia khianat.
Sebagian orang mendefinisikannya sebagai nafsu seorang mukmin. Al-Hasan al-Bashri berujar, "Seorang mukmin itu selalu mencela (lawwamah artinya banyak mencela, pent) dirinya. Ia terus berkata: Apa yang kau inginkan dari semua ini? Mengapa kau lakukan ini? Sungguh ini lebih baik daripada yang ini! Atau yang semisalnya."
Ada juga yang mengartikannya dengan celaan pada hari kiamat. Pada hari itu setiap pribadi akan
mencela dirinya sendiri. Jika ia pendurhaka, atas kedurhakaannya, dan jika ia seorang yang taat, atas keteledoran dan kekurangannya. Ibnul Qoyyim berkata, "Semua pengertian di atas benar."
Lawwamah itu ada dua. Lawwamah yang tercela dan lawwamah yang sebaliknya.
Yang pertama adalah nafsu yang dungu dan menganiaya diri sendiri. Ia dicela oleh Allah dan para malaikat. Sedangkan yang kedua adalah nafsu yang selalu mencela pemiliknya karena kekurangannya dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala – padahal ia sudah berusaha sekuatnya – Nafsu ini tidak dicela. Bahkan nafsu yang paling utama adalah nafsu yang mencela diri atas kekurangtaatannya kepada Allah, dan ia siap menerima celaan dalam menggapai ridla-Nya. Demikianlah ia terbebas dari celaan Allah. Berbeda dengan orang yang puas atas amal yang dikerjakannya, dan ia tidak dicela oleh nafsunya, lalu tidak siap menerima celaan dalam menggapai ridla-Nya. Dialah yang dicela oleh Allah.
NAFSU AMMARAH BIS SUU'
Inilah nafsu yang tercela. Ia selalu mengajak kepada keburukan, dan itu memang tabiatnya. Tidak ada seorang pun yang dapat selamat dari kejahatannya selain orang-orang yang mendapatkan taufiq dari Allah subhanahu wa ta'ala. Allah mengisahkan tentang istri menteri al-Aziz,
"Dan aku tidak berlepas tangan dari nafsuku. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyeru kepada kejahatan. Kecuali yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Yusuf: 53)
Dan firman-Nya,
"Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, niscaya tidak ada seorangpun dari kalian yang bersih-suci, selamat-lamanya." (QS An-Nur: 21)
Rasulullah shalalallahu alaihi wa salam mengajarkan kepada para sahabat khutbah hajah,
"Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya. Kita juga berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu kita dan keburukan amal-amal kita."
Kejahatan itu tersimpan di dalam nafsu. Ia akan mengajak kepada amal-amal yang buruk. Apabila Allah membiarkan seorang hamba bersama nafsunya, ia akan binasa di tengah-tengah kejahatan nafsu dan amal buruknya. Apabila Allah memberikan taufiq dan memberikan pertolongan kepadanya, niscaya selamatlah ia dari semuanya. Oleh karenanya kita memohon kepada Allah yang maha Agung untuk melindungi kita dari kejahatan nafsu dan amal buruk kita.
Ringkas kata, nafsu itu satu saja. Ia bisa menjadi ammarah, lawwamah atau muthmainnah, yang merupakan puncak kebaikan dan kesempurnaannya.
Diambil dari buku Tazkiyah An-Nafs, Konsep Penyucian Jiwa Menurut Para Salaf, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Ibnu Rajab al-Hambali, dan Imam Ghazali, ditahqiq oleh Dr. Ahmad Farid, Penerbit Pustaka Arafah Solo, halaman 67-73

Jumat, 30 Maret 2012

♥♥ KADO untuk sahabatku..♥♥

Ya ALLAH...

Ku titipkan sebuah 'KADO' untuk sahabat-sahabatku..
Ini memang bukanlah bingkisan mahal,istimewa atau barang lainnya..
'KADO' yang tak ada harganya bila diperhitungkan dengan nilai uang..
Tapi 'Kado' sederhana ini hanyalah sebuah 'DOA'
Namun benar-benar tulus dan moga menjadi kebaikan buat mereka.

Ya ALLAH..

Berilah kebaikan dan yang terbaik dalam hidup mereka..
Berikan kemudahan dalam setiap aktiviti mereka ,keselamatan dan kebahagiaan
Perkenankan apa yang mereka citakan..
Tetapkan kesabaran bila menghadapi ujian,kesusahan dan kesempitan..
Kemudahan dalam kesulitan dan jalan keluar untuk setiap permasalahan ..
Lindungilah mereka,jauhkan dari hal-hal buruk dan bimbinglah mereka selalu ..
Agar sentiasa berada di jalan yang lurus dan tetapkankan dalam kebenaran..
Ridhoilah mereka,berkahilah setiap langkah mereka dan jauhkan dari bermaksiat kepada-Mu..
Ampunilah dosa-dosa mereka dan lindungi dari lupa bersyukur kepada-Mu..

Ya RABB..

Tiada TUHAN selain ENGKAU yang maha mengetahui hajat hamba-hamba-Mu..
Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong..
Kabulkanlah doa ini dan berikan yang sama bagiku juga yang mendoakan mereka..

Aamiin ya Robbal'Alamin..

Sahabatku,,
Kejernihan akhlakmu sangat kukagumi, kerendahan hatimu sangat kuhormati.
tingkah lakumu, mengingatkan ku betapa indahnya ciptaan Ilahi.
tutur katamu, membuatkanku mahu mjadi hamba Allah yang sejati.
Muliamu bukan kerana rupa, harta maupun apa saja, muliamu kerana dirimu memuliakan Allah dlm setiap perkara.
Moga dirimu dan diriku terus istiqomah dalam kebaikan..
pemanis kata, penyejuk hati.. ^_^

Semoga ALLAH meridhoi putik-putik Ukhuwah yang ditaburi dalam perjalanan ini...dan
semoga ALLAH mengikat hati-hati kita hingga ke Jannah-Nya..

Aamiin Allahumma Aamiin..


Salam Ukhuwah fillh ,,

(Muslimah Solehah)

JAWABAN ATAS PERMOHONANKU

Aku memohon kepada Allah untuk menyingkirkan penderitaanku.

Allah menjawab,Tidak.

Ujian itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya.



Aku memohon kepada Allah untuk menyempurnakan kekurangan jasmaniku.

Allah menjawab, Tidak.

Kuberi engkau Jiwa yang sempurna, badan hanyalah sementara.



Aku memohon kepada Allah untuk menghadiahkanku kesabaran.

Allah menjawab, Tidak.

Kesabaran adalah buah dari kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu harus dijalani.
Aku memohon kepada Allah untuk memberiku kebahagiaan.

Allah menjawab, Tidak.

Aku memberimu berkah.

Kebahagiaan adalah tergantung dari padamu.



Aku memohon kepada Allah untuk menjauhkan penderitaan.

Allah menjawab, Tidak.

Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat padaKu.
Aku memohon kepada Allah untuk menumbuhkan rohku.

Allah menjawab, Tidak.

Kau harus menumbuhkannya sendiri,

tetapi Aku akan memangkas untuk membuatmu berbuah.



Aku memohon kepada Allah segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup.

Allah menjawab, Tidak.

Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal.


Aku memohon kepada Allah membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia mengasihiku.

Allah menjawab, akhirnya kau mengerti.

HARI INI ADALAH MILIKMU JANGAN SIA-SIAKAN.

Bagi dunia kamu mungkin hanyalah seseorang,
Tetapi bagi seseorang kamu adalah dunianya

:*Siapa yang tak terluka, dialah yang tegar.*:

.·.Apabila Allah hendak menyebar keutamaan
Dia sediakan padanya lidah orang yang dengki

Kalaulah tidak karena nyala api di sekitarnya

Niscaya bau harum kayu gaharu tak dapat diketahui

Perkataan jelek tidak akan memberikan madharat padamu kecuali jika engkau terpengaruh

dengannya, menanggapinya, dan marah karenanya.

Sesungguhnya yang membuatmu sakit adalah karena mendengarnya.

(Dr. A’idh Al-Qarni)

Setiap orang tentu pernah mengalami hal seperti ini. Mendengar gunjingan orang dan menjadikan sebuah ingatan yang selalu terngiang-ngiang, terbekas di hati
meninggalkan luka yang dalam. Siapa yang tak terluka, dialah yang tegar.


Pun begitu dengan saya. Pernah suatu saat saya mengalami kejadian seperti itu. Saya tidak tegar saat itu namun lama kelamaan, terlupakan namun tetap jadi bahan instropeksi diri. Kejadian itu bermula saat diri ini khilaf dan tiba-tiba saja mendengar celetukan mengenai diri saya –dari seseorang yang sangat dekat dengan saya- . Diri ini tertunduk dan terdiam. Saya hanya berkata dalam hati “Saya sudah memaafkanmu kawan, saatnya saya instopeksi”.


Tiada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada bersedekah –dengan kehormatannya- kepada orang-orang yang fakir akhlaknya; dan kepada orang-orang yang miskin harga dirinya. Pahala pasti diperoleh dan dosa-dosa pasti dihapuskan.



Dan tiada perbuatan yang lebih bermanfaat bagi orang yang menghendaki Allah dan negeri akhirat, daripada perbuatan Dhamdham, seorang sahabat yang telah bersedekah dengan kehormatannya pada orang yang mencaci dan menggunjingnya.
Saat kita mendengar satu ucapan yang tidak sedap, lalu memaafkannya, saat itu pula kita memperoleh eloknya kemuliaan, ketinggian, dan kehidupan yang baik. Karena ucapan yang jelek tidak membahayakan orang yang dikenai ucapannya tadi. Tapi justru membahayakan pengucapnya sendiri. Kita tidak pernah mendengar bahwa perkataan dapat meuntuhkan kemulian atau membangun kemuliaan.

(Diilhami dari Tulisan Dr.A’idh Al-Qarni)

Kamis, 29 Maret 2012

Sudikah Bermunajat..

Dikala banyak mata terlelap terbuai
Melayang beralaskan kenikmatan
Banyak pula orang menyendiri dengan kekasihnya
Menggapai nikmat surga duniawi
Dimanakah dirimu….?

Langkahkan kakimu menyusuri gelapnya malam
Paksalah jiwa ini melangkah menuju seruan-Nya
Lihatlah sekitar,
Sunyi, lengang, berteman siapakah langkah kaki
Langit kelam berhiaskan kilauan bintang menemani jejakmu

Cobalah tengok,
Didalam rumah Yang Maha Menyayangi
Terkumpulah lelaki beruban yang bermunajat
Dimana para pemuda…?
dimana mereka…?
Mereka lupa, sekali lagi lupa atau melupakan

Namun….
Cobalah tunggu barang sejenak
Dikala surya mulai menghangatkan bumi beserta hamparanya
Lihatlah mereka…..
Begitu cepat mengisi lorong jalan
Sudut-sudut jalan penuh sesak olehnya
Wajah yang memburu dunia
Langkah kaki bercengkrama urusan lahiriah

Untuk itukah jiwa yang tersemat?
Melampiaskan hasrat tak bertepi
Berbaris taat mengikuti penghuni huthamah
Hingga terlupakan Pemilik singgasana ‘arsy

Perputaran siang dan malam tanda kebesaranNya
Luangkan waktu sejenak
Bersujud merendahkan diri dihadapan Ilahi
Bukankah kelak negeri berkafilah diantaramu
Rasalah hati dengan kasihNya
Lembutkanlah hati oleh belaianNya
>SENANDUNG JIWA<

Salam jum'at Mubarak..!

Allahumma Shali'ala Muhammad..''

dan Selamat Bermunajat .
menjemput JamuanNYA,
Barakallahu Fiikum ^^

Sepenggal Do'a Untukmu

Rabb,...
Aku datang pada Mu dengan penuh kepasrahan
Ketika dihadapkan kepada pilihan terberat

Rabb,...
Beri ketetapan hati untukku
Hati yang terbaik yang sama-sama kita lihat
Hati yang bukan saja menyejukkan dalam pandanganku
Tapi hati yang telah Kau lihat sampai menembus relung qalbunya...

Allah yang Maha Kuasa,
Maha melihat masa depan,
Maha mengetahui yang akan terjadi
Engkau jua yang mengetahui keinginan terdalam hatiku

Ya Allaah,...
Jika mendambanya adalah kesalahan
dan merindunya adalah kekeliruan
Tolong jangan biarkan hati ini terbuai dalam keindahan fatamorgana semu...

Jika kesempurnaannya bukan untukku...
Tolong bawa jauh dari relung hati...
Hapuskan khayalan keindahan tentangnya
dan jangan biarkan aku terlena dalam keindahannya...
Gantikan aku dengan kesempurnaan yang sebenarnya untuk dia

Tapi Allaah,...
Jika kesempurnaanku adalah bersamanya
Beri aku kekuatan menentukan pilihan
Beri aku kesabaran dalam menjalani proses menggapainya
Jika dia memang untukku...
Jangan biarkan aku menyerah & terpuruk dalam belenggu masa lalu............

Smoga kau ridhai kami untuk bersatu
Mengarungi sisa usia...
Menapaki jalan kearah Mu...
Dan melukis keindahan untuk dunia dan akhirat kami...

Tolong beri kesabaran yang penuh...
dalam melalui detik-detik waktu yang berjalan...

Aamiiin......

(Akhii Full Hikmah)
Refleksi Kerinduan Hadirnya Seorang Teman