Mengenai Saya
- Nadiasafaqoh auliaramadhany sifaai
- I am a university student in Jakarta I want to pursue my dream for my parents and my family I wish my parents proud to see from heaven....(..._...)ya allah protect me in every step ammin ammin...
Sabtu, 31 Maret 2012
NAFSU MANUSIA
Tiga Karakteristik Nafsu
Para penempuh jalan menuju Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan beragam
cara dan metode bersepakat bahwa nafsu adalah faktor yang menghalangi
hati untuk sampai kepada Allah. Mereka juga bersepakat, tidak ada
seorang pun yang dapat masuk dan sampai kepada Allah kecuali jika sudah
membunuh, menyelisihi, dan memenangkan pertarungan atasnya. Begitulah,
manusia itu ada dua kelompok. Pertama, manusia yang dikalahkan, dikuasai
dan dihancurkan oleh hawa nafsunya. Ia benar-benar tunduk di bawah
perintahnya. Kedua, manusia yang berhasil memenangkan pertarungan
melawannya. Ia mampu mengekangnya, menundukannya, dan nafsu pun tunduk
di bawah perintahnya.
Sebagian orang arif berkata, "Akhir dari
perjalanan para thalibin (orang-orang yang mencari) adalah ketika
mereka telah berhasil menundukkan nafsunya. Siapa pun yang demikian
keadaannya telah berhasil dan sukses. Sebaliknya siapa saja yang
dikalahkan oleh nafsunya telah gagal dan hancur. Allah subhanahu wa
taala berfirman,
"Adapun
orang yang durhaka, lagi mengutamakan kehidupan dunia. Maka neraka
Jahimlah tempat tinggalnya. Sedangkan orang yang takut akan kebesaran
Rabbnya, lagi menahan diri dari hawa nafsunya. Maka surgalah tempat
tinggalnya. (QS An-Nazi'at: 37-41) Nafsu itu menyeru kepada sikap
durhaka dan mendahulukan dunia. Sedangkan Allah subhanahu wa talaa
menyeru hamba-Nya agar takut kepada-Nya dan menahan diri dari hawa
nafsunya. Jadi, hati manusia itu ada di antara dua penyeru. Kadangkala
ia condong kepada yang satu, dan kadang pula condong kepada yang
lainnya. Di sinilah ujian dan cobaan.
Di dalam al-Qur'an Allah
subhanahu wa ta'ala menyebut nafsu dengan tiga sifat: muthmainnah,
lawwaamah dan ammaarah bis suu'. Selanjutnya manusia berbeda pendapat,
apakah nafsu itu satu dan yang tiga adalah sifatnya? Ataukah setiap
manusia itu memiliki tiga nafsu.
Pendapat pertama adalah pendapat
fuqaha' dan para mufassir. Sedangkan pendapat kedua adalah pendapat
mayoritas ahli tashawwuf. Tetapi pada hakekatnya tidak ada pertentangan
antara dua pendapat ini. Sebab memang nafsu itu satu jika ditinjau dari
sisi dzatnya, dan tiga jika ditinjau dari sisi sifatnya.
NAFSU MUTHMAINNAH
Apabila nafsu tenang dan tentram dengan dzikrullah, tunduk kepada-Nya,
rindu akan perjumpaan dengan-Nya, serta jinak kala dekat dengan-Nya,
maka kepadanya dikatakan – ketika menemui ajalnya -,
"Wahai nafsu muthmainnah! Pulanglah kepada Rabbmu dengan penuh ridla dan diridlai! (QS Al-Fajr: 27-28)
Ibnu Abbas menafsirkan muthmainnah dengan mushaddiqah, membenarkan kebenaran.
Qatadah berkata, Yaitu seorang mukmin yang nafsunya tenang dengan apa
yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Tenang di pintu ma'rifah
terhadap asma' dan shifat-Nya dengan berdasarkan kabar dari-Nya
(al-Qur'an) dan dari Rasul-Nya (as-Sunnah). Tenang atas kabar yang
datang tentang apa yang terjadi setelah kematian, alam barzakh, dan
kejadian di hari kiamat, seakan-akan melihatnya dengan mata telanjang.
Tentram atas takdir Allah, menerima dan meridhainya, tidak benci dan
berkeluh kesah, tidak pula terguncang keimanannya, tidak berputus asa
atas sesuatu yang lepas darinya, pun tidak berbangga atas apa yang
dimilikinya. Sebab, semua musibah telah ditakdirkan oleh-Nya jauh
sebelum musibah itu sampai kepadanya, bahkan sebelum ia diciptakan.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
"Tidak ada musibah yang datang
kecuali dengan izin dari Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada
Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya". (QS
At-Taghabun: 11)
Tidak
sedikit dari para salaf yang menafsirkannya sebagai seseorang yang
ditimpa musibah, ia mengerti bahwa musibah itu datang dari Allah,
sehingga ia ridha dan pasrah.
Adapun yang dimaksud dengan
thuma'ninah ihsan adalah ketenangan seseorang dalam melaksanakan
perintah dengan ikhlas dan setia. Tidak mendahuluinya dengan satu
keinginan atau pun hawa nafsu. Juga bukan karena ia tidak dihinggapi
suatu syubhat yang mengaburkan kabar-Nya, atau syahwat yang bertentangan
dengan perintah-Nya. Bahkan jika suatu ketika datang, ia akan
menganggapnya sebagai gangguan yang baginya lebih baik terjun dari
langit ke bumi daripada mengecapnya, walau sesaat. Inilah yang dimaksud
oleh nabi sebagai sharimul iman (iman yang jelas). Juga, ia tenang dari
kegelisahan untuk bermaksiat dan gejolaknya menuju taubat dan
kenikmatannya.
Bila diri tenang telah berpindah dari keraguan kepada
keyakinan, dari kebodohan kepada ilmu, dari kealpaan kepada dzikir,
dari khianat kepada taubat, dari riya' kepada ikhlas, dari kedustaan
kepada kejujuran, dari kelemahan kepada semangat yang membaja, dari
sifat 'ujub kepada ketundukan, dan dari kesesatan kepada ketawadhuan,
ketika itulah nafsu telah tentram, muthmainnah.
Pondasi dari itu
semua adalah yaqzhah, kesadaran. Kesadaranlah yang menyibak kealpaan dan
kelalaian diri. Ia pulalah yang menampakkan baginya taman surga. Ia
bersenandung.
Tahukah kau, duhai nafsu?
Celaka bila… engkau bergembira
Bantu aku dalam pekatnya malam
Moga cita nikmat hidup… dalam menjulang
Sesudah hancur segala
Di bawah cahaya kesadaran, diri akan melihat semua yang diciptakan
untuknya. Juga, apa yang akan ditemuinya di alam barzakh, sampai
memasuki negeri abadi. Ia juga melihat betapa cepat dunia berlalu,
betapa sedikit dunia memberikan kenikmatannya kepada anak-anaknya dan
orang-orang yang merindukannya, dan betapa dunia membunuh mereka dengan
belati-belatinya. Maka bangkitlah ia seraya berseru:
"Duhai, betapa meruginya aku atas keteledoranku di sisi Allah" (QS Az-Zumar: 56)
Selanjutnya, ia akan menggunakan sisa umurnya untuk melengkapi
kekurangan, menghidupkan yang telah ia matikan, membenahi puing-puing
masa silam, dan memanfaatkan setiap kesempatan – yang jika terlewat,
terlewat pulalah seluruh kebaikan.
Masih di bawah cahaya kesadaran
dan cahaya nikmat Rabbnya kepadanya, ia melihat betapa ia tak mampu lagi
menghitungnya, betapa ia tak mampu memenuhi haknya, betapa ia penuh
dengan aib, juga amal-amalnya yang rusak, kejahatan-kejahatannya,
dosa-dosanya, serta kelalaiannya terhadap tugas dan kewajiban yang tidak
sedikit.
Akhirnya
luluh sudah nafsunya, khusyu' sudah anggota badannya, dan ia pun
berjalan menuju Allah subhanahu wa ta'ala dengan kepala tertunduk oleh
banyaknya nikmat yang ia saksikan serta kejahatan, aib dan dosa dirinya.
Kini, ia tahu betapa berharga waktu yang dimilikinya. Juga bahwa ia
adalah modal utama kejayaannya. Maka bakhillah ia terhadapnya jika bukan
untuk upaya mendekatkan diri kepada Rabbnya. Sungguh, membuang-buang
waktu adalah kerugian, sedangkan menjaganya adalah kemenangan dan
keberuntungan.
Inilah buah dari yaqzhah dan implikasinya, yang
merupakan langkah awal dari nafsu muthmainnah dalam perjalanannya menuju
Allah dan kampung akhirat.
NAFSU LAWWAMAH
Ia adalah nafsu yang
selalu berubah keadaan. Ia sering berbalik, berubah warna. Kadang ia
ingat, kadang alpa. Kadang ia sadar, kadang berpaling. Kadang ia cinta,
kadang benci, kadang ia gembira, kadang sedih. Kadang ia ridla, kadang
murka. Kadang ia taat, dan kadang ia khianat.
Sebagian orang
mendefinisikannya sebagai nafsu seorang mukmin. Al-Hasan al-Bashri
berujar, "Seorang mukmin itu selalu mencela (lawwamah artinya banyak
mencela, pent) dirinya. Ia terus berkata: Apa yang kau inginkan dari
semua ini? Mengapa kau lakukan ini? Sungguh ini lebih baik daripada yang
ini! Atau yang semisalnya."
Ada juga yang mengartikannya dengan celaan pada hari kiamat. Pada hari itu setiap pribadi akan
mencela
dirinya sendiri. Jika ia pendurhaka, atas kedurhakaannya, dan jika ia
seorang yang taat, atas keteledoran dan kekurangannya. Ibnul Qoyyim
berkata, "Semua pengertian di atas benar."
Lawwamah itu ada dua. Lawwamah yang tercela dan lawwamah yang sebaliknya.
Yang pertama adalah nafsu yang dungu dan menganiaya diri sendiri. Ia
dicela oleh Allah dan para malaikat. Sedangkan yang kedua adalah nafsu
yang selalu mencela pemiliknya karena kekurangannya dalam ketaatan
kepada Allah subhanahu wa ta'ala – padahal ia sudah berusaha sekuatnya –
Nafsu ini tidak dicela. Bahkan nafsu yang paling utama adalah nafsu
yang mencela diri atas kekurangtaatannya kepada Allah, dan ia siap
menerima celaan dalam menggapai ridla-Nya. Demikianlah ia terbebas dari
celaan Allah. Berbeda dengan orang yang puas atas amal yang
dikerjakannya, dan ia tidak dicela oleh nafsunya, lalu tidak siap
menerima celaan dalam menggapai ridla-Nya. Dialah yang dicela oleh
Allah.
NAFSU AMMARAH BIS SUU'
Inilah nafsu yang tercela. Ia
selalu mengajak kepada keburukan, dan itu memang tabiatnya. Tidak ada
seorang pun yang dapat selamat dari kejahatannya selain orang-orang yang
mendapatkan taufiq dari Allah subhanahu wa ta'ala. Allah mengisahkan
tentang istri menteri al-Aziz,
"Dan aku tidak berlepas tangan dari
nafsuku. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyeru kepada kejahatan. Kecuali
yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang" (QS Yusuf: 53)
Dan firman-Nya,
"Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, niscaya
tidak ada seorangpun dari kalian yang bersih-suci, selamat-lamanya."
(QS An-Nur: 21)
Rasulullah shalalallahu alaihi wa salam mengajarkan kepada para sahabat khutbah hajah,
"Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan
memohon ampunan kepada-Nya. Kita juga berlindung kepada Allah dari
kejahatan nafsu kita dan keburukan amal-amal kita."
Kejahatan itu
tersimpan di dalam nafsu. Ia akan mengajak kepada amal-amal yang buruk.
Apabila Allah membiarkan seorang hamba bersama nafsunya, ia akan binasa
di tengah-tengah kejahatan nafsu dan amal buruknya. Apabila Allah
memberikan taufiq dan memberikan pertolongan kepadanya, niscaya
selamatlah ia dari semuanya. Oleh karenanya kita memohon kepada Allah
yang maha Agung untuk melindungi kita dari kejahatan nafsu dan amal
buruk kita.
Ringkas kata, nafsu itu satu saja. Ia bisa menjadi
ammarah, lawwamah atau muthmainnah, yang merupakan puncak kebaikan dan
kesempurnaannya.
Diambil dari buku Tazkiyah An-Nafs, Konsep
Penyucian Jiwa Menurut Para Salaf, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Ibnu Rajab
al-Hambali, dan Imam Ghazali, ditahqiq oleh Dr. Ahmad Farid, Penerbit
Pustaka Arafah Solo, halaman 67-73
Jumat, 30 Maret 2012
♥♥ KADO untuk sahabatku..♥♥
Ya ALLAH...
Ku titipkan sebuah 'KADO' untuk sahabat-sahabatku..
Ini memang bukanlah bingkisan mahal,istimewa atau barang lainnya..
'KADO' yang tak ada harganya bila diperhitungkan dengan nilai uang..
Tapi 'Kado' sederhana ini hanyalah sebuah 'DOA'
Namun benar-benar tulus dan moga menjadi kebaikan buat mereka.
Ya ALLAH..
Berilah kebaikan dan yang terbaik dalam hidup mereka..
Berikan kemudahan dalam setiap aktiviti mereka ,keselamatan dan kebahagiaan
Perkenankan apa yang mereka citakan..
Tetapkan kesabaran bila menghadapi ujian,kesusahan dan kesempitan..
Kemudahan dalam kesulitan dan jalan keluar untuk setiap permasalahan ..
Lindungilah mereka,jauhkan dari hal-hal buruk dan bimbinglah mereka selalu ..
Agar sentiasa berada di jalan yang lurus dan tetapkankan dalam kebenaran..
Ridhoilah mereka,berkahilah setiap langkah mereka dan jauhkan dari bermaksiat kepada-Mu..
Ampunilah dosa-dosa mereka dan lindungi dari lupa bersyukur kepada-Mu..
Ya RABB..
Tiada TUHAN selain ENGKAU yang maha mengetahui hajat hamba-hamba-Mu..
Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong..
Kabulkanlah doa ini dan berikan yang sama bagiku juga yang mendoakan mereka..
Aamiin ya Robbal'Alamin..
Sahabatku,,
Kejernihan akhlakmu sangat kukagumi, kerendahan hatimu sangat kuhormati.
tingkah lakumu, mengingatkan ku betapa indahnya ciptaan Ilahi.
tutur katamu, membuatkanku mahu mjadi hamba Allah yang sejati.
Muliamu bukan kerana rupa, harta maupun apa saja, muliamu kerana dirimu memuliakan Allah dlm setiap perkara.
Moga dirimu dan diriku terus istiqomah dalam kebaikan..
pemanis kata, penyejuk hati.. ^_^
Semoga ALLAH meridhoi putik-putik Ukhuwah yang ditaburi dalam perjalanan ini...dan
semoga ALLAH mengikat hati-hati kita hingga ke Jannah-Nya..
Aamiin Allahumma Aamiin..
Salam Ukhuwah fillh ,,
(Muslimah Solehah)
JAWABAN ATAS PERMOHONANKU
Aku memohon kepada Allah untuk menyingkirkan penderitaanku.
Allah menjawab,Tidak.
Ujian itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya.
Aku memohon kepada Allah untuk menyempurnakan kekurangan jasmaniku.
Allah menjawab, Tidak.
Kuberi engkau Jiwa yang sempurna, badan hanyalah sementara.
Aku memohon kepada Allah untuk menghadiahkanku kesabaran.
Allah menjawab, Tidak.
Kesabaran adalah buah dari kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu harus dijalani.
Aku memohon kepada Allah untuk memberiku kebahagiaan.
Allah menjawab, Tidak.
Aku memberimu berkah.
Kebahagiaan adalah tergantung dari padamu.
Aku memohon kepada Allah untuk menjauhkan penderitaan.
Allah menjawab, Tidak.
Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat padaKu.
Aku memohon kepada Allah untuk menumbuhkan rohku.
Allah menjawab, Tidak.
Kau harus menumbuhkannya sendiri,
tetapi Aku akan memangkas untuk membuatmu berbuah.
Aku memohon kepada Allah segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup.
Allah menjawab, Tidak.
Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal.
Aku memohon kepada Allah membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia mengasihiku.
Allah menjawab, akhirnya kau mengerti.
HARI INI ADALAH MILIKMU JANGAN SIA-SIAKAN.
Bagi dunia kamu mungkin hanyalah seseorang,
Tetapi bagi seseorang kamu adalah dunianya
:*Siapa yang tak terluka, dialah yang tegar.*:
.·.Apabila Allah hendak menyebar keutamaan
Dia sediakan padanya lidah orang yang dengki
Kalaulah tidak karena nyala api di sekitarnya
Niscaya bau harum kayu gaharu tak dapat diketahui
Perkataan jelek tidak akan memberikan madharat padamu kecuali jika engkau terpengaruh
dengannya, menanggapinya, dan marah karenanya.
Sesungguhnya yang membuatmu sakit adalah karena mendengarnya.
(Dr. A’idh Al-Qarni)
Setiap orang tentu pernah mengalami hal seperti ini. Mendengar
gunjingan orang dan menjadikan sebuah ingatan yang selalu
terngiang-ngiang, terbekas di hati
meninggalkan luka yang dalam. Siapa yang tak terluka, dialah yang tegar.
Pun begitu dengan saya. Pernah suatu saat saya mengalami kejadian
seperti itu. Saya tidak tegar saat itu namun lama kelamaan, terlupakan
namun tetap jadi bahan instropeksi diri. Kejadian itu bermula saat diri
ini khilaf dan tiba-tiba saja mendengar celetukan mengenai diri saya
–dari seseorang yang sangat dekat dengan saya- . Diri ini tertunduk dan
terdiam. Saya hanya berkata dalam hati “Saya sudah memaafkanmu kawan,
saatnya saya instopeksi”.
Tiada sesuatu yang lebih
bermanfaat bagi seorang hamba daripada bersedekah –dengan kehormatannya-
kepada orang-orang yang fakir akhlaknya; dan kepada orang-orang yang
miskin harga dirinya. Pahala pasti diperoleh dan dosa-dosa pasti
dihapuskan.
Dan tiada perbuatan yang lebih
bermanfaat bagi orang yang menghendaki Allah dan negeri akhirat,
daripada perbuatan Dhamdham, seorang sahabat yang telah bersedekah
dengan kehormatannya pada orang yang mencaci dan menggunjingnya.
Saat
kita mendengar satu ucapan yang tidak sedap, lalu memaafkannya, saat
itu pula kita memperoleh eloknya kemuliaan, ketinggian, dan kehidupan
yang baik. Karena ucapan yang jelek tidak membahayakan orang yang
dikenai ucapannya tadi. Tapi justru membahayakan pengucapnya sendiri.
Kita tidak pernah mendengar bahwa perkataan dapat meuntuhkan kemulian
atau membangun kemuliaan.
(Diilhami dari Tulisan Dr.A’idh Al-Qarni)
Kamis, 29 Maret 2012
Sudikah Bermunajat..
Dikala banyak mata terlelap terbuai
Melayang beralaskan kenikmatan
Banyak pula orang menyendiri dengan kekasihnya
Menggapai nikmat surga duniawi
Dimanakah dirimu….?
Langkahkan kakimu menyusuri gelapnya malam
Paksalah jiwa ini melangkah menuju seruan-Nya
Lihatlah sekitar,
Sunyi, lengang, berteman siapakah langkah kaki
Langit kelam berhiaskan kilauan bintang menemani jejakmu
Cobalah tengok,
Didalam rumah Yang Maha Menyayangi
Terkumpulah lelaki beruban yang bermunajat
Dimana para pemuda…?
dimana mereka…?
Mereka lupa, sekali lagi lupa atau melupakan
Namun….
Cobalah tunggu barang sejenak
Dikala surya mulai menghangatkan bumi beserta hamparanya
Lihatlah mereka…..
Begitu cepat mengisi lorong jalan
Sudut-sudut jalan penuh sesak olehnya
Wajah yang memburu dunia
Langkah kaki bercengkrama urusan lahiriah
Untuk itukah jiwa yang tersemat?
Melampiaskan hasrat tak bertepi
Berbaris taat mengikuti penghuni huthamah
Hingga terlupakan Pemilik singgasana ‘arsy
Perputaran siang dan malam tanda kebesaranNya
Luangkan waktu sejenak
Bersujud merendahkan diri dihadapan Ilahi
Bukankah kelak negeri berkafilah diantaramu
Rasalah hati dengan kasihNya
Lembutkanlah hati oleh belaianNya
>SENANDUNG JIWA<
Salam jum'at Mubarak..!
Allahumma Shali'ala Muhammad..''
dan Selamat Bermunajat .
menjemput JamuanNYA,
Barakallahu Fiikum ^^
Sepenggal Do'a Untukmu
Rabb,...
Aku datang pada Mu dengan penuh kepasrahan
Ketika dihadapkan kepada pilihan terberat
Rabb,...
Beri ketetapan hati untukku
Hati yang terbaik yang sama-sama kita lihat
Hati yang bukan saja menyejukkan dalam pandanganku
Tapi hati yang telah Kau lihat sampai menembus relung qalbunya...
Allah yang Maha Kuasa,
Maha melihat masa depan,
Maha mengetahui yang akan terjadi
Engkau jua yang mengetahui keinginan terdalam hatiku
Ya Allaah,...
Jika mendambanya adalah kesalahan
dan merindunya adalah kekeliruan
Tolong jangan biarkan hati ini terbuai dalam keindahan fatamorgana semu...
Jika kesempurnaannya bukan untukku...
Tolong bawa jauh dari relung hati...
Hapuskan khayalan keindahan tentangnya
dan jangan biarkan aku terlena dalam keindahannya...
Gantikan aku dengan kesempurnaan yang sebenarnya untuk dia
Tapi Allaah,...
Jika kesempurnaanku adalah bersamanya
Beri aku kekuatan menentukan pilihan
Beri aku kesabaran dalam menjalani proses menggapainya
Jika dia memang untukku...
Jangan biarkan aku menyerah & terpuruk dalam belenggu masa lalu............
Smoga kau ridhai kami untuk bersatu
Mengarungi sisa usia...
Menapaki jalan kearah Mu...
Dan melukis keindahan untuk dunia dan akhirat kami...
Tolong beri kesabaran yang penuh...
dalam melalui detik-detik waktu yang berjalan...
Aamiiin......
(Akhii Full Hikmah)
Refleksi Kerinduan Hadirnya Seorang Teman
Langganan:
Postingan (Atom)






